Atraksi Wisata Budaya Dijauhi Wisatawan

BERBAGAI atraksi wisata budaya yang digelar di berbagai daerah penjuru nusantara, terancam tak bakal digelar ulang. Malah dikhawatirkan berantakan dan bisa jadi hanya terpasang di kalender event wisata nasional, namun tak jelas kapan pelaksanaanya.

Pasalnya, atraksi wisata budaya yang mengangkat budaya lokal, yang diharapkan menyedot wisatawan lokal, nasional sekaligus mengharapkan kedatangan wisatawan internasional, ternyata berubah seratus delapan puluh derajat. Karena kini semakin tak diminati untuk ditonton.

Terbukti, jumlah pengunjung atau wisatawan lokal yang datang menyaksikan atraksi budaya itu terus berkurang, menurun dratis. Dan atraksi itu kurang memuaskan dari sisi jumlah pengunjung lokal. Begitu juga wisatawan nasional pun tak kelihatan batang hidungnya. Jika ada ya…paling-paling undangan dan panitia. Apalagi wisatawan mancanegaranya jangan harap datang. Menyedihkan memang.

Pantauan selama tahun 2008, seperti Festival Krakatau di Lampung, Festival Musi di Palembang, Gebyar Wisata Banten di Tanggerang, Festival Singkawang Kalimantan Barat dan terakhir Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci di Jambi, kondisi atraksi budaya itu kok semakin memprihatinkan dari sisi pengunjung, wisatawan.

Meski atraksi budaya digelar secara gratis, namun tak semarak lagi dari sisi pengunjungnya. Sepi. Tak ada perhatian, apakah atraksi budaya itu sudah dijauhi masyarakat yang kategori wisatawan lokal? Memang itulah kondisi yang ada di masyarakat kita sekarang ini.

Sepinya pengunjung wisatawan lokal, terjadi karena berbagai alasan. Umumnya atraksi wisata itu terkesan monoton, membosankan, menjenuhkan karena tidak ada variasi sajian yang menarik. Juga, tak ada atraksi yang membuat ketertarikan orang untuk ketagihan datang.

Monoton lantaran atraksi yang disajikan tahun ini, seperti penyajian tahun-tahun sebelumnya bahkan malah lebih jelek lagi. Membosankan karena sebelum atraksi wisata digelar, sambutan panitia, kepala daerah sampai menteri yang dinilai sangat panjang dan makan waktu. ”Ini atraksi wisata atau kampanye pejabat mendekati pemilu,” celetuk seorang pengunjung saat menyaksikan pembukaan Festival Krakatau di Lampung.

Menjenuhkan lantaran atraksi wisata ya itu-itu saja. Buktinya, pada Festival Krakatau tarian yang ditampilkan semuanya hampir tari topeng, apa tak ada tarian lain. Padahal bisa saja Pemda Lampung mendatangkan tarian Barongsai, Reog Ponorogo, drum band tradisional ala Bali dan kesenian daerah lain kan masih banyak!.

Begitu juga, saat menghadiri Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci di Jambi yang dulu sangat dielu-elukan wisatawan lokal. Tahun 2007, antusias masyarakat untuk menyaksikan pagelaran budaya daerah itu cukup tinggi. Selama sepekan berlangsung acara atraksi itu selalu dipadati pengunjung. Namun kata padat itu, untuk tahun 2008 jangan harap ada lagi.

Di sisi wisatawan nasional dan turis asing yang tak datang, ya karena promosinya nggak ada bagaimana bisa menarik kunjungan turis. Promosi, publikasi sekali dua kali itu jelas tak akan membekas, tak akan mengingatkan wisatawan. Apalagi promosi itu cuma dilakukan di tingkat daerah atau propinsi, maka jangan harap mendapat lebih.

Seharusnya, promosi itu dilakukan setahun sebelum atraksi wisata digelar kemudian dilanjutkan sebulan sekali dengan menampilan informasi berbeda tentang perkembangan atraksi wisata itu. Memang yang terjadi selama ini, sebulan sebelum atraksi wisata digelar panitia daerah sibuk tak jelas apa yang dikerjakan. Jadi bagaimana mencitpakan image event itu.

Terus terang, atraksi wisata itu mengeluarkan dana yang cukup besar. Sayangnya pengeluaran anggaran besar itu tidak diimbangi dengan feedback yang besar pula. Malah event atraksi wisata yang digelar saat ini terkesan hanya menghambur-hamburkan dana. Kalau ini yang terjadi, menyedihkan sekali.

Bagaimana di tingkat pusat, yakni Departemen Kebudayaan dan Pariwisata yang menangani, memonitor kemajuan pariwisata se Indonesia nampaknya juga kurang giat, kurang aktif, kurang peduli dalam ikut membantu promosi atraksi wisata budaya di daerah. Kalau sudah demikian, bagaimana pariwisata Indonesia bisa maju?